Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Oktober 2013

Menyimak Kehidupan Suku Sasak di dusun Ende, Lombok


Ende, adalah salah satu dusun di desa Rambitan, kecamatan Pujut, kabupaten Lombok Tengah.Kini menjadi desa Wisata, karena keunikan masyarakat dan budayanya yang mempertahankan adat suku Sasak, suku asli Lombok.

plang masuk desa wisata suku Sasak di dusun Ende
 Terletak di tepi jalan raya, desa Sasak di dusun Ende ini dengan mudahnya kita temui.Sekitar 40 menit dari Mataram.Sebuah papan nama yang cukup besar terpampang di tepi jalan, membuat siapapun yang melihat, saya yakin tertarik untuk singgah.
Dengan ditemani gerimis sore itu dan keingintahuan yang besar tentang suku Sasak, masuklah saya melewati pintu gerbang dengan arsitektur tradisional khas suku Sasak, jalan masuk agak mendaki plus agak licin akibat gerimis dan tekstur jalan yang agak berbatu.Saya menyeret wedges orens , duhh..kenapa juga lupa bawa sendal jepit yahh...hiksss
Guide yang menemani, cukup ramah.Pertama sekali, kami diajak menuju ke rumah tradisional suku Sasak.Di teras rumah, seorang wanita asli suku Sasak sudah menyambut dengan senyum yang sangat ramah.Dari senyumnya yang memperlihatkan deretan giginya yang berwarna merah itulah saya bisa menyimpulkan, bahwa  nyirih tidak hanya dilakukan oleh suku di Papua tapi juga suku Sasak.

nyirih, ternyata ada juga dalam budaya suku Sasak
Saya cukup tertarik, memperhatikan sebuah kotak sebesar ukuran kotak sepatu, terbuat dari kayu yang ternyata berisi perlengkapan nyirih.Meski ditawari, saya belum berani mencoba nyirih.Wanita tua itu, dengan ramah melayani kami foto dengannya secara bergantian.

akrab yah? seperti sahabat lama baru bertemu kembali, hihihii...
Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah arsitektur rumahnya, yang tradisional sekali.Beratap rumbia, dengan tanpa sekat, lantai dari kotoran kerbau, iyahh...tapi tidak bau loh! Guide kami menjelaskan, kotoran kerbau dengan campuran abu jerami dan tanah liat bisa mengatur suhu di dalam ruangan dan juga di teras rumah.Jika cuaca hujan, lantai akan terasa hangat dan jika cuaca panas, lantai akan memberikan suasana dingin dan sejuk.

rumah tradisional suku Sasak

Teras yang menjadi tempat menerima tamu tersebut disebut ‘bale luar’, sementara ruangan di dalam rumah disebut ‘bale luar’.Kedua bale ini dipisahkan dengan tiga anak tangga, dengan pintu geser yang rendah, jadi kalo mau masuk rumah harus nunduk dulu.Dan ternyata, ini ada filosofinya, jadi para tamu yang datang ,menghargai tuan rumah.Sementara tiga anak tangga, merupakan simbol yang disebut  Wetu Telu, sejak dahulu dianut nenek moyang suku Sasak.

"romantic room", ruangan  (bale dalam) ini akan digunakan bagi pasangan pengantin baru
 Guide menjelaskan, bahwa akan ada pesta perkawinan di rumah tersebut.Ruangan tak bersekat  di dalam rumah sudah disiapkan untuk pasangan pengantin baru.Berkarung-karung beras tampak berjejer rapi.Kalo ruangan yang tanpa sekat itu digunakan oleh pasangan pengantin baru, maka anggota keluarga yang lain bersiap untuk tidur di teras, hihihi, tentunya tanpa perlu kuatir nyamuk dan cuaca dingin, karena lantai dari kotoran sapi tersebut sudah mengatasi hal itu.Wah, mantap!!!
Meski disebut sebagai desa wisata, kehidupan suku Sasak di dusun Ende dengan sekitar 27 KK ini berjalan seperti biasa.Sebagian bertani, mengurus ternak, menenun songket khas Lombok, dan menjadi guide, melayani tamu yang berkunjung.
kain tenun
Suasana kampung  malah sepi menurutku.Kami  berkeliling di kampung wisata yang memiliki luas sekitar 6 ha.Menikmati jejeran rumah-rumah berarsitektur tradisonal, khas suku Sasak, yang beratapkan rumbia.Lumbung sebagai tempat penyimpanan padi, nampak di beberapa sudut kampung wisata.
lumbung padi
 Di sudut lain, kami memasuki koperasi.Yang ternyata adalah sebuah bangunan tradisional , dimana didalamnya terdapat berbagai jenis kerajinan khas suku Sasak.Ada kain tenun, dan beberapa jenis kerajinan lainnya, seperti asbak, perlengkapan dapur, dan hiasan.




Berkunjung ke salah satu dusun, dari tiga dusun di Lombok  dengan budaya suku Sasak asli merupakan pengalaman yang semakin memperkaya wawasan tentang budaya Indonesia, sayangnya, saya tidak sempat berkunjung ke desa Sade yang juga merupakan desa wisata suku Sasak, Lombok.May be someday...

Rabu, 20 Februari 2013

Mappogau Sihanua di Karampuang (2)

Dalam tatanan kehidupan masyarakat Karampuang, terdapat empat orang pemangku adat dengan istilah Ade Eppa'e atau adat empat.Terdiri atas Arung, Gella, Sanro dan Guru.Dalam pengambilan keputusan mereka selalu mengadakan musyawarah yang tergambar dalam pesan “Eppa Alliri Pattepona Wanuae” atau empat tiang penyangga negeri.


Arung adalah pemimpin masyarakat adat Karampuang yang paling berhak tinggal di rumah Toma Toa, ia sangat disegani dan hanya sekali bicara.Gella, tinggal tidak jauh dari Toma toa, bila Arung adalah raja maka Gella ibarat perdana menteri yang bertanggungjawab soal hukum dan peradilan di Karampuang.Guru dan Sanro memiliki tugas yang sama terkait dengan spiritual.Jika Sanro yang seorang perempuan mengurusi hal-hal spiritual terkait adat, maka Guru mengurusi hal-hal spiritual terkait pelaksanaan hari raya Islam, karena tentunya dalam Islam, yang harus memimpin persoalan spiritual adalah laki-laki.

Dalam pelaksanaan kegiatan adat Mappogau Sihanua, acara adat tersebut dipimpin oleh Sanro.Dalam acara Manre Ase Baru atau makan beras baru, yang pertama turun dari rumah adat dan menjejakkan kakinya di tanah adalah Sanro.Hal inilah yang saya saksikan ketika meliput Mappogau Sihanua.Bergegas turun dari rumah, dan kami melihat langsung bahwa yang pertama turun dari rumah adat Toma Toa, adalah seorang perempuan berbaju dan bersarung putih, diikuti anak perempuan dengan mengenakan pakaian putih.

sanro

Perjalanan menuju ke puncak bukit Karampuang tempat prosesi sesungguhnya akan berlangsung pun dimulai.Sanro diikuti Arung, Gella, Guru serta masyarakat  bergegas mendaki bukit menuju puncak.

sanro mendaki bukit menuju tempat prosesi


Perjalanan menuju puncak bukit cukup menantang, saya saja merasakan mendaki bukit dengan kemiringan hampir 90 derajat akibat mengambil jalan pintas dan begitu banyaknya orang yang bergegas menuju puncak, sementara saya juga mau mengambil gambar dan tidak ingin kehilangan satu momen sedikitpun, karena ini pertama kalinya mengikuti acara adat Mappogau Sihanua and I'm sooo...excited! Off course!!!

masyarakat berbondong-bondong menuju puncak bukit dengan membawa hasil bumi



medannya cukup berat, rite?! :)

puncak bukit berbatu tempat berlangsungnya prosesi adat

Finally, kamipun sampai di puncak bukit, dimana ada sedikit dataran dengan kontur tanah dan ada beberapa bagian tertutupi batu.Yah, puncak bukit berbatu, dan disinilah nanti prosesi sesungguhnya akan berlangsung.Sebelum sampai di dataran dengan kontur berbatu tersebut, beberapa meter sebelumnya, kami diminta untuk membuka alas kaki! Menurut warga, ini sudah aturan adat.

sampai batas pohon ini, mohon buka alas kaki Anda! :)

Prosesi adat sesungguhnya pun dimulai, Sanro meminta warga masyarakat yang membawa persembahan, seperti kambing, ayam, hasil bumi,dll diminta untuk mendekat.Ada lingkaran batu, dengan naungan kain putih diatasnya, tempat Sanro melakukan prosesi ini.Warga pun menyimpan persembahan yang mereka bawa di sekitar lingkaran batu itu.Tak ada ribut-ribut, hening, semua dilakukan dengan tenang.Kamipun menikmati ritual tersebut, sambil sesekali bergantian dengan teman melakukan live report!

prosesi dipimpin sanro













Setelah ritual adat berlangsung, ayam dan kambing yang merupakan bentuk persembahan atau ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang cukup melimpah, kemudian dilepas dan menjadi rebutan warga masyarakat yang hadir.
Perjalanan menuruni bukit tak terasa, dan ternyata ada beberapa spot menarik yang bernilai sejarah dan budaya cukup tinggi tentunya yang saya lalui, akibat ketergasan saya menuju puncak bukit.Beberapa diantaranya adalah, sumur tua, yang biasanya digunakan warga untuk memandikan bayi dan anak2 mereka.Ada juga beberapa peninggalan zaman batu besar atau megalitikum (selain di puncak bukit).Hal tersebut menjadi kesimpulan saya, karena batu-batu yang ada memiliki ukuran yang cukup besar :D

batu besar

batu berbentuk?? Uhm,,

drainase sumur

sumur tua





Banyak sekali hal menarik yang dapat digali dari kehidupan masyarakat adat Karampuang.Mulai dari rumah adat, ritual adat, tatanan kehidupan mereka, dsb.Saya senang bisa ikut merasakan langsung atmosfer ritual adat Mappogau Sihanua yang selama ini hanya dapat saya dengar dari penuturan guru Budaya saya di SMU, dari buku2 dan dari internet.Tertarik untuk menyaksikan langsung ritual adat ini? Siapkan stamina dan gadget Anda untuk moment ini pada setiap Oktober/November, di kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Cat: Tulisan ini dalam rangka Hari Jadi Sinjai yang diperingati setiap bulan Februari.

Selasa, 19 Februari 2013

Mappogau Sihanua di Karampuang (1)

“Sekedar berbagi pengalaman , ketika meliput Mappogau Sihanua di Karampuang”
rumah adat karampuang

Mappogau Sihanua adalah suatu pesta adat yang di gelar oleh masyarakat di puncak bukit Karampuang.biasanya di gelar seusai panen pada Oktober/November.Karampuang adalah nama sebuah dusun adat yang terletak di desa Tompobulu kecamatan Bulupoddo kabupaten Sinjai propinsi Sulawesi Selatan, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari ibukota kabupaten Sinjai.Karampuang adalah sebuah dusun atau kawasan adat, dimana masyarakat yang berdomisili di dusun ini masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.


Pertama kali menginjakkan kaki di dusun ini, saya terpesona dengan kawasan hutannya yang sepintas amat sangat terjaga.Ternyata memang kawasan hutan di dalam dusun adat ini merupakan kawasan hutan adat, tidak sembarang orang dapat melakukan penebangan pohon di kawasan ini.Kawasan hutan adat ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat yaitu Kementrian Kehutanan berupa penghargaan sebagai kawasan hutan adat.

hutan di kawasan adat karampuang
Memasuki pintu gerbang kawasan adat, kami masih harus berjalan beberapa kilometer menuju rumah adat Karampuang, tempat diawalinya prosesi Mappogau Sihanua.Tak perlu merasa khawatir kepanasan, karena dengan kawasan hutan yang rimbun, banyak pepohonan, jauh dari polusi udara, menghirup udara yang bersih dan sejuk, perjalanan menuju rumah adat Karampuang tak terasa bahkan menyenangkan.

Bersama teman sesama reporter, kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah adat.Rumah Adat Karampuang yang berbentuk panggung, beratapkan rumbia, dengan tiang-tiang terpancang di dalam rumah.Yang unik, setelah menapaki anak tangga, kami langsung disambut dengan dapur, hmm...tiba-tiba saya teringat dengan rumah adat di kawasan Amma Toa Kajang Bulukumba yang juga dapurnya berada di depan.Saya masih ingat dengan penjelasan guru Budaya saya ketika SMU, bahwa rumah adat dengan dapur yang berada di depan, sebagai simbol yang sarat makna akan keterbukaan dan kejujuran.Perasaan saya ketika memasuki rumah adat Karampuang, rasanya welcome sekali.Sepertinya kedatangan kami memang dinanti.

dapur di rumah adat karampuang
Well, kamipun melangkahkan kaki masuk, berbaur dengan tamu-tamu dari pemerintah daerah serta tamu lain dan beberapa wartawan dari berbagai media yang meliput acara ini.Kekaguman saya akan masyarakatnya yang terbuka, welcome, sederhana, apa-adanya dan sangat menghargai tamu tak hanya sampai disini.Dengan bagian dalam rumah yang tak bersekat, para tamu kelihatan hampir berbaur dengan masyarakat khususnya ibu-ibu yang sibuk mengolah bahan makan dan menyiapkan sajian bagi tamu yang datang.Tak ada sekat, tentunya kami melihat langsung aktivitas yang mereka lakukan.Ibu-ibu berjumlah puluhan ini, masing-masing sibuk dengan kegiatannya, mereka bekerja namun tak sepatah kata keluar dari mulut mereka, tenang, tak ada ribut-ribut, atau senda-gurau, canda-tawa, semua bekerja tanpa komando seolah masing-masing mengerti apa yang harus mereka kerjakan.

ibu-ibu menyiapkan hidangan untuk tamu
Kami lantas mengambil tempat agak ditengah, suasana rumah sudah hampir dipenuhi tamu undangan.Saya duduk di dekat ibu-ibu yang lagi sibuk menyiapkan dan mengolah bahan makanan.Saya sempatkan berbincang dengannya, dari hasil bincang-bincang singkat, saya memperoleh informasi jika apa yang mereka lakukan saat ini secara bergotong-royong, saling bantu, baik dengan masyarakat di dalam kawasan adat maupun masyarakat di luar dusun adat, baik itu dari segi bahan-bahan makanan yang disiapkan untuk tamu dan masyarakat maupun kegiatan membersihkan kawasan adat.Salut deh!

kue tradisional
Tak berapa lama, seorang ibu membawa nampan bulat besar berisi makanan dan meletakkan di tengah-tengah kami, bersama tiga orang teman saya, kami menikmati santapan dengan menu tradisional tersebut.Rasanya enak atau karena lagi lapar yah! Hehehe.Setelah makan dan menikmati kue tradisional seperti dodol, mata saya tak lepas mengamati bangunan dalam rumah.Tiang-tiang yang terpancang di tengah rumah menarik perhatian saya.Heiii..ada ukiran di tiang dalam rumah seperti simbol.Pastinya simbol tersebut sarat makna.Sampai saat ini, saya belum mencari tahu apa makna dari simbol tersebut.Mungkin suatu hari, setelah saya mengetahuinya akan saya bagikan di blog ini :)

simbol di tiang dalam rumah adat karampuang
Setelah menikmati makan siang, terdengar aba-aba bahwa ritual akan segera dimulai.Beberapa tamu nampak mulai menuruni rumah adat Karampuang, termasuk saya dan rekan saya tentu saja. (..to be continued..)