Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Papua. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 September 2013

Mengunjungi Museum Cendrawasih Biak


Jalan-jalan sambil menikmati pemandangan dan keindahan alam itu sudah biasa.Yang tidak biasa adalah jalan-jalan sambil mencari tau dan menikmati sejarah suatu tempat yang dikunjungi.Kalo punya waktu terbatas, mengunjungi museum menjadi pilihan terbaik.

latar Museum Cendrawasih
 Di Biak, saya sampe gak bisa tidur.Gara-gara kepikiran Museum Cendrawasih yang beberapa kali lewat di depannya tapi gak sempat singgah.Akhirnya sebelum pulang, bela-belain rental mobil buat keliling Biak, termasuk ke Museum Cendrawasih.
Museum Cendrawasih ini gampang banget ketemunya, karena terletak di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Mandala, Distrik Biak Kota, Kota Biak, Provinsi Papua, atau tepatnya berada di depan Kompleks Pangkalan TNI AU Biak.

Dari luar aja, saya sudah excited melihat bangunan museum tersebut.Berbentuk rumah panggung.Dengan banyak tiang penyangga. Ternyata bentuk bangunan tersebut merupakan arsitektur tradisional khas rumah suku Biak yang disebut dengan rumstram. Museum ini banyak menyimpan artefak peninggalan Perang Dunia II, dan beberapa adat budaya masyarakat Papua melalui profil beberapa suku yang tinggal di Pulau Papua, khususnya yang berada di Kabupaten Biak Numfor.
Ketika masuk, kami disambut dengan beberapa martir, bom dan senjata perang lainnya.Peninggalan Perang Dunia ke II.Celingak-celinguk nyari-nyari pos buat beli tiket, gak keliatan.
Eh, pas di bawah bangunan museum, ada dua orang bapak-bapak yang lagi ngobrol santai.Kami lantas mengutarakan maksud kedatangan dan menjelaskan kalo saya dan seorang teman saya merupakan rombongan tim bola Perssin.Di sambut dengan ramah oleh bapak2 tersebut, yang ternyata salah seorang diantaranya adalah ajudan Bupati Biak Numfor.Sayangnya, dari penjelasan bapak tersebut, museum tidak dapat dikunjungi karena masih sementara dalam tahap renovasi.Tapi kami tetap dipersilahkan untuk mengambil foto benda-benda peninggalan Perang Dunia II yang terdapat di halaman museum.
tanknya kerren yahh, tapi sayang ada coretannya!
Sebuah tank nampak nangkring manis di samping kanan museum.Sayangnya di badan tank banyak terdapat coretan.Di dalam tank juga saya melihat beberapa pecahan botol.Yang tidak kalah menarik sih, martir dan senjata perang lainnya yang terdapat di halaman depan museum.
berasa aura2 mistisnya :D hmm....
Mengambil gambar dan berfoto-foto di depan museum saja sudah bikin puas dan happy luar biasa.Gimana kalo bisa masuk ke dalam yah?! Hehehe.Saya sih berharap, someday bisa datang kesini lagi.Penasaran sama artefaknya!

Kamis, 26 September 2013

Papua Oh Papua - Kaimana Kota Senja

Dengan menumpang pesawat Wings Air berbaling-baling dengan kapasitas 50 seat, sampailah kami di Kaimana, salah satu kabupaten di propinsi Papua Barat.

Sebelumnya kami sempat transit di kab.Nabire.Di Nabire, saya ketemuan dengan sikampong, orang Sinjai, k hj.Ani dan sahabat saya Ira, dll, yang menunggu saya di bandara.Saking pengennya ketemu, bela-belain menunggu beberapa jam di bandara.Wah, gakk nyangka bisa ketemu di bandara Nabire.Sebenarnya, saya ingin sekali memenuhi ajakan mereka untuk singgah di Nabire, tapi apalah daya, pekerjaan menuntut saya untuk tetap bersama rombongan, hehehe.Saya malah dikasih oleh2, Jeruk khas Nabire, yang rasanya manisss!

Ada pengalaman berkesan yang gak bakalan saya lupa, tentang menumpang pesawat.Baru kali ini saya naik pesawat serasa naik bus! Sumpah! Gerahhh, mana ribut lagi, karena suara dari baling-baling pesawat.Suara mesin meraung-raung serasa mau meledak. AC agaknya kurang berfungsi dengan baik.Untungnya, seat saya paling depan dan dekat jendela, jadi perasaan deg-degan serrr karena suara ribut dari baling-baling bisa ‘agak’ teratasi dengan melihat pemandangan alam Papua dari atas pesawat.Dan baru kali ini, naik pesawat serasa pengen muntah!Saya malah sempat-sempatnya berkelakar dengan teman serombongan, kalau naik pesawat kali ini sama dengan naik bus, bedanya, kita gak bisa buka jendela, hehehe.Tapi sebenarnya, dari awal saya sudah mempersiapkan diri naik pesawat twin otter berkapasitas 12 seat, yang naiknya harus timbang berat badan dulu.Ternyata di luar ekspektasi saya.Saya malah sudah tidak sabaran ingin menikmati Senja di Kaimana.
Kelegaan luar biasa baru terasa ketika landing.Pas mau landing aja, saya nyari-nyari landasan, gakk keliatan, sementara pesawat semakin terbang rendah di atas permukaan laut, omg! Ternyata landasannya sejajar dengan laut.
Kaimana dari atas pesawat
pas mau landing
Welcome, Kaimana!
Udara Kaimana siang itu begitu panas.Saya lupa membawa sunglasses.Sepanjang perjalanan dari bandara ke penginapan, saya tak lepas mengamati pemandangan yang kami lalui.Menarik memang memerhatikan bagaimana bangunan pemerintah, rumah-rumah penduduk, orang-orang dan kehidupan masyarakat daerah yang mendapat Otonomi Khusus ini.Jalan yang kami lalui cukup baik kondisinya, stadion Triton-nya cukup luas meski dengan kondisi yang kurang terawat.Di dekat penginapan kami terdapat beberapa gereja dan mesjid yang termasuk bangunan terbaik.Menariknya lagi, penginapan kami juga dekat dengan Pelabuhan dan Pasar.Yuhuuu....

Gereja adalah salah satu bangunan terbaik
Pagi-pagi sekali saya bangun.Sengaja, karena ingin mengambil gambar dan menikmati suasana kota Kaimana di pagi hari.Di Kaimana, terdapat taman kota.Konsepnya cukup menarik.Di dinding taman terdapat relief buatan yang menceritakan tentang Kaimana, termasuk tentang sejarah masuknya Islam di Kaimana dan kerukunan umat beragama di Kaimana.Di tengah taman terdapat perahu buatan.Dan tempat buat duduk.Spot yang menarik buat berfoto.
centre point of Taman Kota Kaimana

Taman Kota dengan latar pegunungan

Relief di Taman Kota yang mengisahkan tentang kerukunan umat beragama di Kaimana
Prasasti peresmian Taman Kota
 Pagi itu, menghirup segarnya udara Kaimana.Kendaraan memang tidak begitu banyak di daerah ini.Berjalanlah saya menuju taman kota.Pelajar yang berangkat sekolah.Memerhatikan anak-anak yang bermain bola.Jadi teringat anak saya di rumah! Ada pula petugas kebersihan dengan rompi khusus, yang lagi nyapu2 di sekitar taman.Sampahnya sih didominasi ampas pinang bekas nyirih yang meninggalkan bekas kemerah-merahan di jalan.
anak-anak bermain bola
ibu-ibu lagi menggelar dagangan di pagi hari yang sejuk, Sirih+Pinang!
Sorenya,seusai match, saya lalu mengajak teman serombongan untuk berburu sunset! Ke Kaimana tapi tak menikmati indahnya sunset rugi banget menurutku.Karena sudah amat sangat sore, kami berlari-lari dari penginapan menuju sekitar pelabuhan yang tidak jauh dari penginapan untuk berburu sunset yang hampir tenggelam.Menikmati Senja di Kaimana dari sudut mana saja memang begitu indah.Tak usahlah saya berkomentar banyak tentang indahnya Senja di Kaimana, tapi silahkan saja menikmati  foto berikut ini J

Senja di Kaimana
siluet of me! :)
Dari hasil ngobrol2 dengan warga setempat.Tahulah saya, jika dalam satu rumah, terdapat dua jenis agama berbeda, itu merupakan hal yang wajar saja di Kaimana.Wah, toleransi beragama yang patut di contoh, karena mereka semua hidup berdampingan secara harmonis dan saling menghormati perbedaan agama.
Orang di Kaimana juga memiliki karakter berbeda dengan orang di Sentani.Meski sama-sama dari Papua namun terdapat beberapa perbedaan.Secara fisik misalnya, orang lokal di Sentani rata-rata bertubuh besar subur, dengan bau badan yang khas.Di Kaimana, bau badannya tak terlalu.Warna kulit juga ‘agak’ berbeda dibanding penduduk lokal Sentani.Di Kaimana juga banyak warga pendatang yang telah mendiami daerah tersebut selama berpuluh-puluh tahun.Bahkan ketemu dengan orang asli Sinjai yang mengajak kami makan malam dengan suguhan ikan bakar di rumahnya.Alhamdulillah!

bentuk rumah dan penduduk lokal Kaimana
Menikmati Santapan Ikan Bakar di rumah salah seorang penduduk yang merupakan orang asli Sinjai

Rasanya berada di Kaimana itu menyenangkan dan aman! Saya berani menerima tantangan untuk muter-muter Kaimana sendirian.Namun, sayangnya masih belum ada transportasi yang memadai untuk muter-muter Kaimana.Apalagi yang menarik tentang Kaimana? Teluk Triton! Lagi-lagi karena alasan waktu, menikmati keindahan teluk Triton harus diurungkan.Padaal kami harus rugi waktu seharian karena pesawat menuju Makassar yang tertunda hingga keesokan harinya.Oleh pihak maskapai, kami lantas dibawa ke penginapan yang berbeda dari sebelumnya.Penginapan kali ini tidak terlalu jauh dengan bandara, dekat pula dengan pantai.Namun, guess what? Apa yang saya lakukan guna menghabiskan sisa waktu di Kaimana? Jalan-jalan? Ah, tidak! Tidur dari siang hingga keesokan paginya! Rasa letih baru terasa, sejak perjalanan yang dimulai dari Sentani hampir seminggu sebelumnya ditambah dengan jadwal padat dan perjalanan yang ‘super’ sekali.Saya memilih nge-cash energi.Karena besok, perjalanan ke Makassar akan transit di Ambon selama 4 jam, belum lagi jika delay, dannn lanjut Sinjai by bus pada hari yang sama! Goodbye Kaimana! J

Rabu, 25 September 2013

Papua Oh Papua - Galau di Danau

Judulnya terlalu berlebihan yah? Suer! Saya benar-benar galau ketika berada di tempat ini.Tapi tenang saja, dibalik kegalauan, saya masih berusaha menikmati Papeda plus Ikan Masak Kuah Kuning serta indahnya suasana danau Sentani, danau terbesar kedua setelah danau Toba di Sumatra Utara.

Danau Sentani adalah danau yang terletak di Papua Indonesia. Danau Sentani berada di bawah lereng Pegunungan Cagar Alam Cycloops yang memiliki luas sekitar 245.000 hektar. Danau ini terbentang antara Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura, Papua. Danau Sentani yang memiliki luas sekitar 9.360 hektar dan berada pada ketinggian 75 mdpl. Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua.Di danau ini juga terdapat 21 buah pulau kecil menghiasi danau yang indah ini. Arti kata Sentani berarti "di sini kami tinggal dengan damai”. Nama Sentani sendiri pertama kali disebut oleh seorang Pendeta Kristen BL Bin ketika melaksanakan misionaris di wilayah danau ini pada tahun 1898. Di danau ini juga diadakan Festival Danau Sentani untuk menarik wisatawan. Festival Danau Sentani biasanya diadakan pada pertengahan bulan Juni tiap tahun, FDS sendiri telah ditetapkan sebagai festival tahunan dan masuk dalam kalendar pariwisata utama. Festival ini diisi dengan tarian-tarian adat di atas perahu, tarian perang khas Papua, upacara adat seperti penobatan Ondoafi, dan sajian berbagai kuliner khas Papua.

Danau Sentani
Ngomong-ngomong, apa kabar dengan kegalauan saya? Iyah, Kegalauan yang luar biasa, karena menyangkut reputasi saya sebagai reporter, yang harus melaporkan dua pertandingan bola Perssin (klub bola Sinjai, Divisi Utama).Match pertama sudah berlangsung aman, dan selanjutnya match kedua di Kaimana.Galaunya di bagian mana yah? Hehehe.Galau karena tiba-tiba dapat telepon dari travel agent, kalo tiket ke Kaimana belum dapat! What! Helloo??!! Rombongan sudah akan berangkat besok, dan saya belum dapat tiket,karena full booked, malah dikasih opsi lagi oleh travel agen balik aja Makassar kalo tiket belum dapat.Heyy..., enak aja! Saya lantas sedikit bersitegang dengan orang travel, lah ini gimana, bukannya seharusnya sudah dapat tiket karena booked jauh2 hari, dengan alasan penerbangan yang full booked, dan jadwal penerbangan kesana yang katanya hanya ada dua kali dalam seminggu, membuat tiket selalu full booked.Daripada bersitegang yang gak ada penyelesaian malah dikasih opsi yang bagi saya rasanya gak masuk akal! Karena bagi saya, match kedua ini harus di live! Titik!

Papeda, Ikan Masak Kuah Kuning, Sayur Bunga Pepaya
Sambil menikmati Papeda plus Ikan Masak kuah kuning, yang sebenarnya amat sangat enak tapi terasa hambar di lidah saya ketika itu, teruss saja sy mikir, gimana caranya dapat tiket, bikin planning, dan membuat berbagai alasan masuk akal ke pimpinan, jika harus menghadapi kemungkin terburuk, tak dapat tiket sehingga tak ada live match di radio.

Nikmati saja deh... :)
Untuk menghilangkan sedikit kegalauan, saya mencoba menikmati Senja di Danau Sentani, berbagai macam cara saya lakukan, dari mulai foto-foto, ngobrol, sampai bela-belain nelfon kakak di Kalimantan, curhat, sapa tau saja dia punya solusi, atau setidaknya bisa menenangkan saya yg lagi galau tingkat dunia ini.Tiba-tiba saja saya teringat travel agent tempat saya beli tiket online buat kakak beberapa waktu lalu.Tanpa buang waktu, saya langsung mengontak via bbm,sambil menunggu dengan harap-harap cemas, semoga dapat satu seat ke Kaimana, berapapun harganya, yang penting bisa nyampe sebelum pertandingan dimulai!Tapi ternyata, sehabis di cek, ternyata memang full booked, lemass lah saya! L

:)
siluet of me!
Tapi, pihak travel agen masih memberikan harapan, dengan berjanji akan selalu memantau setiap jam karena terkadang ada pembatalan booked.Usai magrib, bersiap kembali ke hotel.Sepanjang perjalanan, saya lebih banyak diam, mikirin tiket.Berdoa dalam hati, dan niat puasa pas balik kalo misalnya jadi ke Kaimana.Saya juga berusaha untuk berfikir positif, menyerahkan semuanya kepada Yang Di Atas,karena manusia hanya mampu berencana dan Tuhan yang menentukan bukan?! Sampai hotel, saya lantas packing, dengan tujuan yang belum jelas.Kan gak mungkin dong saya tinggal di hotel di Sentani sementara rombongan besok pagi sudah akan berangkat ke Kaimana.Sambil packing, saya berusaha untuk ikhlas, menyerahkan diri dan perjalanan saya kepada Yang Maha Kuasa.Pas lagi packing, tiba-tiba BB saya berbunyi, bbm, isinya? Dapat satu seat ke Kaimana! Yang maskapai, hari dan jam keberangkatan sesuai dengan rombongan! What a surprise! Tuhan mendengarkan doa saya, dalam hati, inikah hasil dari keikhlasan saya? Packing pun dilanjutkan dengan hati tenang dan senang serta tak hentinya bersyukur.Dan salutt dengan travel agen yang selalu memantau secara online biar bisa dapat tiket buat saya.Gilaaa hampirr saja batal ke Kaimana, padahal ini menyangkut reputasi saya yang sudah janji ke pendengar untuk live match.Keesokan pagi, berangkatlah saya bersama rombongan ke bandara untuk menuju ke Kaimana.

Menjelang Senja di Danau Sentani
Dari pengalaman ini saya banyak belajar, tentang cepat tanggap, keikhlasan, usaha dan doa tanpa henti, serta kepercayaan, dan kedewasaan dalam berfikir dan bertindak.Kaimana I’m coming.... J

Selasa, 24 September 2013

Papua Oh Papua - Dari Entrop ke Dok II


Gerah juga beberapa hari di hotel, liputan pertandingan bola di Sentani telah selesai, tapi perjalanan menuju kab.Kaimana, Papua Barat masih beberapa hari lagi.Saya mikir dongg, gak mungkin menghabiskan waktu di Sentani dengan hanya leyeh-leyeh di hotel, makan-tidur-nonton! Baru sj ingin mengajak teman untuk muter2 Sentani-Jayapura, eh, sudah diajak duluan, hayukk deh!

Dengan merental mobil avanza, berangkatlah kami menuju Jayapura, ibukota propinsi Papua.Berempat bersama pak sopir yang ternyata asli dari Sulawesi Selatan, duh, saya lupa namanya, tapi sumpah, bapaknya baik benar, ramah lagi, sikampong toh! 

Menuju Jayapura, kami singgah di beberapa tempat.Melalui entrop, atas saran saya-hasil browsing, singgahlah kami di persinggahan pertama, penangkaran buaya! Betapa senang dan deg-degannya hati ini, karena ini pertama kalinya saya liat buaya secara langsung, biasanya kan hanya liat di tipi saja, hehehe.Di penangkaran buaya, saya berharap bisa melakukan aktivitas yang sedikit banyak memacu adrenalin, seperti memberi makan buaya, makan sate buaya, atauu gendong baby buaya.Tapi, ternyata itu semua di luar ekspektasi saya.Pas nyampe, kami langsung masuk saja, nyari2 loket atau petugasnya tapi gak ketemu, yang ada kami langsung saja terpana melihat beberapa kolam2 setengah kering yang berisi baby buaya.

baby buaya lagi berjemur
Baby buaya lagi pada berjemur! Ada juga sih yang nyemplung ke kolam di bagian terdapat air, sambil matanya tetap keliatan, ihh..serem! Karena masih penasaran, mencoba mencari-cari petugas tapi gak ketemu alias gak kliatan, penasaran aja maunya liat buaya berukuran besar.Teman saya malah bela-belain manjat di tembok, trus jalan menuju kolam sebelah guna mencari tahu, apakah ada bapak dan mama buaya di kolam tersebut, tapi ternyata gak ada! Karena perjalanan masih panjang, abis jepret2 sebentar, perjalanan dilanjutkannn...

Tak berapa lama, tibalah kami di pasar Hamadi, yang pernah ke Jayapura pasti tau nih! Yup, pasar tradisional tempat beli souvenir khas Papua.Ke sini sih juga karena saran saya, hasil browsing, hihihi.Jangan membayangkan seperti di Malioboro Yogya, dimana berjejer puluhan toko-toko yang menjual souvenir khas setempat.Di pasar Hamadi, hanya terdapat tidak kurang dari sepuluh kios berukuran kecil.

Abis jalan dari ujung ke ujung, dan membuat perbandingan harga dari beberapa barang yang dijual di masing-masing kios tersebut, maka pilihan jatuh ke kios di bagian ujung, kios pertama yang kami singgahi.Alasannya, karena ibu paruh baya penjaga kios cukup ramah, dan mengaku dari Sulawesi.Sambil milih-milih barang, sambil berharap bisa dapat diskon, lagi-lagi karena Sikampong! Hehehe.

Di kios souvenir ini, saya hampir saja kalap atau mungkin sudah kalap! Bingungg mau milih yang mana, rasanya mau di bawa pulang semua, semua unik-unik, dan bikin liur saya menetes, jleb!!!.Dari mulai ukiran khas Asmat, koteka, noken, hiasan kulkas, asbak, gelang-gelang, dompet kulit kayu, saya harus merogoh kocek sekitar 700-an ribu rupiah.Mahal gak sih? Tapi menurut saya sebanding lah, karena barang-barang tersebut khas Papua.Sayangnya, saya lupa membeli lukisan kulit kayu khas masyarakat danau Sentani.
lukisan kulit kayu
Sudah waktunya makan siang, padaal saya sudah kenyang abis belanja, hihihi.Akhirnya dapat rumah makan seafood, yang seafoodnya bisa dipilih sesuka hati, segar2 pula.Pilihan saya jatuh ke udang putih, dimana beberapa menit kemudian telah tersaji di depan saya sepiring Udang goreng Crispy, nyam2, kriuk2, renyah, dan daging udangnya terasa agak manis, segar! Udang terenak yang pernah saya santap! Ditemani dengan segelas jus alpukat, makan siang yang amat sangat nikmat, Alhamdulillah!
makan siang yg mantap!
Sampai di kota Jayapura, keliling-keliling bentar, sampai di daerah yang pake istilah “dok”, abis itu muter lagi, dan masuklah kita ke dalam mal, yup Mall of Jayapura alias Jayapura mall.Kerren! cukup rame dan luas! Karena tadi sudah menghabiskan jatah belanja, berburu barang-barang unik khas Papua, maka nafsu belanja saya rasanya sudah hilang! Alhamdulillah deh, hihihi.Saya memilih untuk ngadem di mobil sambil menunggu teman yang masih nge-mall.
di dalam mall
dalam mall of Jayapura
Hmm, koleksi gambar di kamera pocket masih sedikit.Oleh pak sopir, diajaklah kami menuju ke dok II, di depan kantor gubernur Jayapura, menikmati pemandangan sore yang sejuk sambil menanti sunset.

di dok II depan kantor Gubernur Jayapura
anak-anak setempat lagi bermain air di pantai dok II
menjelang senja di dok II
Di sinilah hasrat memfoto dan difoto terpuaskan, pemandangan yang cukup indah, penduduk lokal maupun pendatang yg berenang di pantai, maupun yang menjajakan jualan, berfoto dengan anak-anak dan remaja lokal, sambil menanti sunset, yang ternyata gak keliatan karena tertutup gunung.Duh, pesona tentang Sunset Yang Indah di Papua belum saya nikmati, dan masih harus bersabar untuk itu.

Jumat, 20 September 2013

Papua Oh Papua - Welcome Papua!

Yaiyyyy...liputan ke Papua!

Sudah sejak lama memang saya mengimpikan dapat menginjakkan kaki di bumi cendrawasih, tanah Papua.Salah satu propinsi di Indonesia yang alamnya begitu eksotis, terdapat peninggalan sejarah, dan orang-orangnya yang unik.

Dann...ternyata liputan ke Papua tidak hanya ke satu propinsi saja, Papua, tapi juga ke salah satu kabupaten, Kaimana, yang terletak di propinsi Papua Barat.Excited! Menyenangkan tentu saja, dan saya yakin akan penuh dengan petualangan yang mengesankan! Apalagi Kaimana, baru pertama kali saya mendengar daerah tersebut.Saya lalu browsing, mencari informasi tentang Sentani dan Kaimana, hmm...ternyata banyak tempat peninggalan Sejarah di Sentani, terdapat danau Sentani yang terluas di Indonesia selain danau Toba.Bagaimana dengan Kaimana? Saya lalu sampai pada sebuah lagu berjudul, “Senja di Kaimana”.

Yeahh...penasaran yang menjadi-jadi, membuat adrenalin saya memuncak, apalagi ke Papua merupakan perjalanan pertama saya, liputan sendirian pula!.Jadilah saya memutuskan untuk membawa pakaian secukupnya, dengan backpack di punggung-bukan ransel-biar praktis, dan pertimbangan lainnya, karena saya belum mengenal medan, biar praktis berlari kesana-kemari,hihihii...

Well, petualangan dimulai!!!!   
                                                                                                                                                                                                                                                                                                
Sore hari meninggalkan Sinjai menuju Makassar langsung bandara Sultan Hasanuddin.Kelar urusan tiket dan check-in, sayapun menahan kantuk di waiting room, pesawat baru akan berangkat sekitar pukul satu dini hari.Di bagian ruang tunggu saja sudah terasa hawa Papua, hehehee, apalagi pas ngantri mau masuk pesawat.Saya perhatikan sih, sebagian besar penumpang layaknya pelajar atau mahasiswa.Di pesawat, saya tak dapat menahan kantuk, menahan dingin karena hanya memakai dalaman kaos dan blazer tipis, tapi untunglah, dua kursi di samping saya kosong-saya duduk di dekat jendela-jadi saya tinggal menyandarkan tumpuan tangan kursi, dan tidurlah saya.Mantapp! Meski sesekali saya terbangun kemudian duduk, karena turbulensi dan pramugari menginformasikan cuaca buruk dan harus mengenakan sabuk pengaman.Saya berusaha santai dan kemudian berusaha menikmati tidur, harus istirahat yang cukup, agar ketika sampai pagi hari, badan fit dan fresh lagi!

dekat jendela...cihuyyy
Kegirangan pertama saya meski belum menginjakkan kaki di tanah Papua, ketika subuh menjelang pagi.Karena duduk di dekat jendela, maka saya leluasa menikmati pemandangan dari jendela pesawat.Gunung dan barisan pegunungan yang masih tertutup kabut pagi, pulau pulau kecil berwarna hijau, sungai yang berkelok-kelok, hutan hujan tropis yang begitu padat, glek...saya menahan napas sejenak dan mata yang tak berkedip menyaksikan pemandangan yang pertama kali saya saksikan dalam hidup ini.

pulau-pulau di Papua dilihat dari atas pesawat
Mendarat di Bandar Udara Sentani, Jayapura sekitar pukul enam pagi waktu setempat.Kemudian menghubungi teman-rombongan yang duluan berangkat-yang akan menjemput saya dengan kendaraan hotel.Karena agak lama, daripada boring menunggu di dalam bandara, lebih baik saya keluar menghirup udara pagi Sentani sambil mengambil gambar pikirku.

Alhamdulillah, Welcome Papua!

ucapan selamat datang

menunggu jemputan

Bismillah, saya menuju keluar bandara, tempat menunggu jemputan.Sambil menunggu teman, beberapa orang menawarkan taksi.Jangan bayangkan seperti taksi di Makassar yahh, taksi di bandara di Sentani adalah mobil avanza yang bernomor di sisinya, dengan cap berwarna biru.

taksi bandara Sentani
.Masih menunggu teman, saya memerhatikan orang-orang di sekitar Bandara, bandara yang tidak begitu luas jika dibandingan dengan bandara Sulhas, penduduk lokal yang mulutnya kemerahan karena mengunyah sirih, bau badan yang khas, dan orang-orang yang hmm..yahh cukup ramah saya rasa.

Mobil jemputan datang, ternyata jarak hotel dengan bandara dekat gak sampe 5 menit berkendara sudah sampai.Menikmati pemandangan kota yang tidak sampai lima menit itu, cukup membuat saya kagum.Banyak ruko dan toko-toko besar.Kondisi jalan yang cukup baik, pagi hari yang mulai ramai, dan kendaraan yang cukup padat.

suasana pagi Sentani di sekitar bandara
Sampai di hotel, saya senyum-senyum sendiri, pintu masuk hotel tepat berhadapan dengan sebuah gunung dengan pemandangan air terjun dari kejauhan.Masih tertutup kabut tentu saja.Sejuknyaa, kabut, matahari pagi dan hembusan angin! Dalam hati inimi  yang bikin bolong, hembusan anginnya.Perfect!!! Saya lalu berbisik sendiri, Welcome Papua!