Tampilkan postingan dengan label Monumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Monumen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2013

Monumen Jepang Bukan di Jepang


Ini bukan di Jepang, tapi di salah satu daerah di Indonesia,tepatnya di kabupaten Biak Numfor, Papua Barat.
Lagi-lagi tulisan kali ini tentang Papua! Rasanya sayang jika kisah ini tidak dibagikan.Jadi, jangan bosan-bosan yah, hehehe.

wall ini sebagai centre point

Akhirnya sampai di tempat ini, setelah bertanya kesana-kemari.Tak perlu khawatir untuk bertanya kepada penduduk Biak yang ramah. Mereka akan dengan senang hati menjelaskan arah tujuan. So, never judge the book by the cover.

batu asimetris depan wall

Ternyata petunjuk membawa kami ke sebuah perkampungan dekat pantai.Semakin jauh memasuki daerah tersebut semakin penasaran, dengan monumen Jepang yang memiliki kaitan dengan Goa Jepang.Monumen Jepang terletak di Pantai Paray, Distrik Biak Kota.Di tengah-tengah perkampungan penduduk di pantai Paray.Salah satu pantai yang cukup terkenal di Biak.

Sebelum masuk, kami ijin dulu dengan warga yang berdomisili tepat di samping Monumen Jepang.Sayangnya, tak ada guide dari penduduk setempat yang menjelaskan lebih detail tentang Monumen Jepang ini.

Excited sih! Karena di tengah-tengah perkampungan penduduk Biak di wilayah pantai Paray, terdapat Monumen dengan arsitektur yang modern dan minimalis.Suasana cukup sejuk dan rindang.Terdapat beberapa pohon kelapa dan pepohonan di sekitar.Dengan hembusan angin laut dari pantai Paray di seberang jalan depan monumen.

di seberang monumen adalah pantai Paray

Centre point dari Monumen ini adalah sebuah wall dengan tulisan, “Monumen Perang Dunia ke-II”, dalam tiga bahasa, yaitu : Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Jepang.Dalam prasasti yang terdapat di monumen tersebut menjelaskan, bahwa dibangunnya monumen tersebut untuk mengenang terjadinya Perang Dunia ke-II, mengenang tentang kekejaman perang  dengan segala akibatnya agar tidak terulang lagi.Monumen ini merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Jepang.Dibangun pada tanggal 24 Maret 1994.

prasasti dengan tiga bahasa
prasasti dengan bahasa Inggris

prasasti dengan bahasa Indonesia
 
Di depan wall tersebut, terdapat batu berbentuk asimetris.Di depan batu asimetris tersebut, berjejerlah undakan berbentuk segi empat yang ditempatkan dengan jarak tertentu.Bisa buat tempat duduk-duduk.Tak jauh dari situ, masih di kawasan monumen, terdapat bangunan dengan bentuk atap melengkung, yang di bagian bawahnya terdapat meja dan tempat duduk permanen, lagi-lagi terbuat dari batu/semen.

depan wall

di balik dinding tempat bersandar disitulah letak prasastinya

Sementara itu, di sisi kiri wall, disinilah terdapat prasasti.Dari luar tidak kelihatan.Mesti masuk agak ke dalam.Karena dipisahkan dengan sebuah dinding.Selain prasasti dalam tiga bahasa, disini juga terdapat tiga tiang.Di dekat tiang terdapat sebuah pintu dengan materi kayu yang cukup kokoh.Entah untuk menuju kemana pintu tersebut.

disitu tertulis nama arsitek monumen

entah pintu kemana???
Benar-benar minimalis.Cukup terkesan dengan arsitekturnya.Setiap tahun  banyak turis Jepang yang berkunjung ke sini.Saya cukup betah berada di tempat ini, tapi karena hari Jumat dan rekan saya harus segera melaksanakan kewajibannya, maka beranjaklah kami.Tak lupa merogoh kocek sebesar 20ribu rupiah, untuk seorang remaja perempuan yang memintai kami, sebagai tanda masuk, meski kami tak diberi karcis tanda masuk setelah itu.Tak mengapa, karena pengalaman berada di Monumen ini tak dapat diukur dengan materi.

Minggu, 29 September 2013

Monumen Nani Wartabone


Mengunjungi suatu kota rasanya kurang sreg jika tidak mengabadikan icon kota tersebut.Bisa jadi icon daerah tersebut berupa bangunan, tempat wisata, atau monumen.

Monumen Nani Wartabone
 Pertengahan tahun ini, untuk kedua kalinya melakukan PerDin alias Perjalanan Dinas ke Gorontalo.Salah satu propinsi di Pulau Sulawesi yang terletak di bagian utara, dekat dengan Manado.
Sore hari, teman saya minjam motor teman pemilik penginapan.Muter-muterlah kami keliling Gorontalo.Ini sore terakhir karena besok rombongan sudah harus balik ke Makassar.Di pusat kota, tepatnya di Alun-alun Gorontalo, singgahlah kami sejenak.Monumen Nani Wartabone tampak berdiri ‘gagah’.Banyak yang berubah sejak kunjungan saya yang pertama di tahun 2009 lalu.Rasanya suasana terasa lebih luas karena letak monumen ini ‘nyambung’ dengan alun-alun Gorontalo.Sore itu suasana keliatan sepi.Hanya beberapa orang yang duduk-duduk santai juga seorang anak muda yang bermain skateboard.
Nani Wartabone adalah (lahir 30 Januari 1907, meninggal 3 Januari 1986), yang dianugerahi gelar “Pahlawan Nasional Indonesia” pada tahun 2003, adalah putra Gorontalo dan tokoh perjuangan dari provinsi Gorontalo.Perjuangannya dimulai ketika ia mendirikan dan menjadi sekretaris Jong Gorontalo di Surabaya pada 1923. Lima tahun kemudian, ia menjadi Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Cabang Gorontalo. Tiga tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, ia bersama masyarakat setempat terlebih dulu memproklamasikan kemerdekaan Gorontalo, yaitu pada tanggal 23 Januari 1942.

Prasasti peresmian
 Di dekat monumen terdapat prasasti peresmian.Monumen tersebut diresmikan oleh gubernur Sulawesi Utara, pada tahun 1987, hmm..tiga tahun setelah kelahiran saya.Hehe.Karena di pusat kota, menemukan monumen ini cukup mudah.so, jika ke Gorontalo di Bumi Karawang, sempatkan jalan-jalan kesini.